MODEL KEBERLANJUTAN SISTEM SOSIAL-EKOLOGI DAN AKUAKULTUR CERDAS IKLIM BERBASIS SILVOFISHERY PADA LANSKAP HUTAN MANGROVE NANGA SIRA, KABUPATEN SUMBAWA
Abstract
Abstrak
Integrasi pelestarian mangrove dan budidaya akuakultur (silvofishery) di kawasan pesisir Desa Penyaring, Kabupaten Sumbawa, menghadapi tantangan transisi teknologi dan sinkronisasi kelembagaan. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran institusi tingkat desa (BUMDes dan POKDARWIS) dalam adopsi Climate-Smart Aquaculture (CSA) melalui kerangka Social-Ecological System (SES) Ostrom, mengukur dampak teknologi bertenaga surya dan pendederan benur, memetakan kendala teknis, ekonomi, dan sosial, serta merumuskan rekomendasi lintas pemangku kepentingan. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif-sintesis melalui Systematic Literature Review (SLR) dengan protokol PRISMA terhadap publikasi terkini dan dokumen kebijakan. Hasil sintesis menunjukkan bahwa keselarasan aktor lokal dalam kerangka SES merupakan prasyarat keberhasilan transfer teknologi CSA yang berujung pada resolusi triple win, yaitu peningkatan produktivitas tambak (berdasarkan data sekunder kawasan) dari 0,4 ton menjadi 1 ton per hektar, dekarbonisasi operasional melalui energi surya, pelestarian ekosistem pesisir, dan revitalisasi kearifan lokal (Basiru dan Lar). Kendala literasi tata kelola, tingginya biaya infrastruktur silvofishery, dan konflik tata ruang menuntut kolaborasi strategis pemerintah, swasta, dan akademisi. Penelitian ini menyumbang model keterpaduan multisektor berbasis konservasi yang memadukan kerangka kelembagaan SES dengan teknologi akuakultur presisi pada lanskap mangrove.

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.


