ANALISIS KEBERLANJUTAN USAHA AGROWISATA BELIMBING MOYOKETEN DI KABUPATEN TULUNGAGUNG MELALUI ANALISIS MULTIDIMENSIONAL SCALING
Abstract
Meningkatnya tren nasional agrowisata memunculkan persaingan yang semakin ketat antar destinasi. Agrowisata Belimbing Moyoketen juga masih menghadapi kendala berupa lemahnya integrasi antar pelaku usaha serta terdapat potensi ketidaksesuaian antara praktik lapangan dengan konsep Community Based Tourism (CBT) yang seharusnya inklusif dan adaptif. Kondisi ini dalam jangka panjang tentu dapat mengancam keberlanjutan agrowisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi keberlanjutan usaha ditinjau dari 5 dimensi keberlanjutan, meliputi ekologi, ekonomi, sosial, kelembagaan, dan infrastruktur serta menganalisis atribut penilaian paling berpengaruh terhadap keberlanjutan agrowisata. Sampel pada penelitian ini berjumlah 47 orang yang terdiri dari pihak internal dan eksternal menggunakan teknik purposive dan accidental sampling. Analisis data menggunakan analisis deskriptif dan analisis keberlanjutan Multidimensional Scaling (MDS) Rapfish. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 41 atribut yang dikelompokkan ke dalam 5 dimensi keberlanjutan. Hasil penilaian MDS Rapfish didapatkan 21 atribut sensitif yang dibagi menjadi 2 atribut sensitif pada dimensi ekologi, 4 atribut sensitif pada dimensi ekonomi, 5 atribut sensitif pada dimensi sosial, 6 atribut sensitif pada dimensi kelembagaan, dan 4 atribut sensitif pada dimensi infrastruktur. Secara multidimensi, Agrowisata Belimbing Moyoketen memiliki nilai indeks sebesar 51,26% dengan status cukup berkelanjutan.
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.


